Al Qur'an Online

Buku - Buku Bagus


Masukkan Code ini K1-2FA7AF-C
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Kamis, Oktober 16, 2008

Sabar Dalam Menghadapi Krisis (II)

Krisis di Masa Rasulullah
Benar bahwa Rasulullah semenjak diangkat menjadi Rasul menghadapi problem yang bersifat mengancam eksistensinya. Di periode Makkah masyarakat Quraisy Makkah memusuhi beliau dan para pengikutnya. Tidak ada yang dapat beliau lakukan kecuali sabar dan menghindari konflik. Hijrah, baik dari Habasyah maupun akhirnya ke Yatsrib (Madinah), adalah bentuk lain dari kesabaran menghadapi cobaan. Di periode Madinah bentuk kesabaran menghadapi orang-orang kafir Quraisy berupa perlawanan fisik dalam bentuk perang. Tetapi, bukan cobaan dan problem ini yang dimaksud krisis dalam tulisan ini. Karena, begitu luasnya jenis krisis, maka kita membatasi pada krisis yang terjadi di masyarakat bernegara yang diwarnai konflik.
Di kala Rasulullah memegang tampuk pimpinan dalam bernegara di Madinah tidak terjadi krisis kolektif seperti yang kita alami di negeri kita saat ini. Indikasinya, tidak ada unjuk rasa dilakukan para sahabat. Mungkin karena Rasulullah benar-benar dapat menjadi teladan dalam memimpin umat. Tetapi sebagai utusan Allah, pembawa ajaran yang berlaku kapan dan di mana saja, beliau punya konsep antisipasi menghadapi krisis bagi umatnya.

ANTISIPASI ATASI KRISIS
Seringkali krisis sosial dibebankan kepada penyelenggara negara karena kesalahan manajemen. Mereka dituduh melakukan ketidakadilan dan kemunkaran. Kritik dilakukan berdasarkan sebuah hadits : ... Abu Sa'id berkata ... "saya mendengar Rasulullah bersabda, barang siapa melihat kemunkaran hendaknya mau mengubahnya dengan tangannya. Bila tidak bisa, maka dengan ucapan. Bila tidak bisa, maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman" Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, al-Turmudzi, Abu Daud, Ibn Majah dan Ahmad.
Hadits ini dapat dilaksanakan oleh siapa saja terhadap pihak yang melakukan kemunkaran, baik rakyat terhadap penguasa maupun penguasa terhadap rakyat. Mencegah kemunkaran bagi masyarakat berperadaban biasanya diwujudkan dalam bentuk kritik sampai dengan unjuk rasa. Di banyak Hadits disebutkan bahwa persatuan (ukhuwah) berada di atas yang lain. Kritik tidak boleh merusak ukhuwah. Biasanya, pihak yang merasa kuat dan benar kurang sabar lalu memaksakan kehendak, dikendalikan oleh amarahnya. Sebuah Hadits menyatakan :
Hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda "Bukanlah kuat itu diukur dengan kuatnya dalam menyerang lawan (fisik), tetapi (orang) kuat adalah orang yang dapat menguasai diri ketika marah." Hadits shahih riwayat al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Malik. Hadits lain menyatakan :
"Hadits dari Abu Huraira, ada seorang pria berkata kepada Nabi "Nasihatilah aku (wahai Nabi), Nabi menjawab "kamu jangan marah". Berulang pria itu meminta, Nabi menegaskan "kamu jangan marah". Hadits shahih riwayat al-Bukhari dan al-Turmudzi.
Dengan Hadits ini kita dapat berkata, melontarkan kritik pedas dan unjuk rasa sebagai wujud mencegah kemunkaran itu dapat dilakukan, tetapi jangan dengan marah agar tidak sampai melakukan tindakan anarkis atau tindakan lain yang menimbulkan permusahan. Dengan dalih mencegah kemunkaran, lalu kita mengamuk dan melakukan pengrusakan, sehingga menimbulkan bencana yang lebih besar berupa permusuhan itu tidak boleh. Tidak boleh mencegah sebuah krisis dengan melahirkan krisis yang lebih besar.
Sebaliknya pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang mudah marah, mudah mengobarkan api permusuhan, tetepi pemimpin dengan tampilan santun. Karena pada dasarnya pemimpin itu akan menjadi tauladan umat. Ada baiknya kita perhatikan sebuah kesaksian Anas bin Malik tentang Rasulullah sebagai berikut :
... Anas (bin Malik) bercerita dengan mengatakan, "Aku pernah menjadi khadam (pembantu) Rasul saw selama sepuluh tahun, tidak pernah aku dengar beliau mengata 'ah' kepadaku, tidak pernah pula aku ditegur dengan perkataannya 'mengapa kau lakukan ini?' atau 'mengapa tidak kau lakukan ini?'" Hadits shahih ini diriwayatkan (dengan ragam jalur dan redaksi) oleh Imam al-Bukhari, Muslim, al-Turmudzi, Abu Daud, Ahmad.
Dalam hadits ini Rasulullah memberi contoh toleran terhadap kesalahan kecil yang mungkin dilakukan orang lain, disini Anas bin Malik. Agaknya Anas pun menyadari bahwa biar pun Rasulullah tidak melakukan teguran, ia merasa berkewajiban melakukan sesuatu yang terbaik demi meraih prestasi di hadapan Rasulullah. Anas bin Malik dan Rasulullah ini dapat dijadikan teladan sebagai dua pihak pelaku komunikasi yang sehat, tidak menimbulkan semangat unjuk rasa, apalagi ucapan "Allahu Akbar" yang sebentar lagi merusak pintu gerbang, dan memunculkan huru hara besar. Komunikasi sehat itulah yang perlu dibangun kalau kita ingin krisis yang diwarnai konflik itu segera reda.

(Muh Zuhri, Dikutip dari Suara Muhammadiyah 14/93)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih

Keberhasilan, kesuksesan, kegagalan, kehormatan, kekayaan, kemiskinan, ketidaksempurnaan, dan sebagainya bisa kita miliki. Akan tetapi hanya KESEMPURNAAN milik Allah Adza wa Jalla.



”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat

itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia”

(Al Ahzab:72).


Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An Nisaa’:58).


“tidak ada iman bagi orang yang tidak ada amanah baginya.”

(Hadits Rasulullah SAW.)


Selama hayat kita, sudah banyak dibekali oleh ilmu & pengalaman untuk kita amalkan dalam segala segi kehidupan kita.